Jumat, 25 September 2015

lelaki pecandu malam; sekerat bintang itu, tak benar-benar padam

riuhan angin merasuk tipis di daun telingaku.. kerisik demi kerisik menghantar fikirku pada sesosok lelaki purnama pecandu malam..

lelaki yang asik mendongakkan dagu ke arah langit, tatkala sedepa fatamorgana bertugur di barat. mungkin, ada banyak hal yang bisa menenangkannya disana.
sekerat kilauan bintang kah? atau sepotong rembulan yang duduk dipangkuan malam. Entahlah..

sesaat ia tertegun.. pandanganya terlempar pada sekerat bintang. takjub! bergetar!  setengah tubuhnya terpana, setengah lainnya tertinggal disana. baginya cahaya itu amatlah merona, merajai hati dan segala yang rengkuh di rerongga jiwa.

namun, bintang itu lekas menghilang. benar, benar menghilang tanpa isyarat perpisahan.
hatinya mendadak kelu, sendu..
Kini, ia hanya membisu dikerongkongan masa.

Apalah daya malam yang harus tunduk akan titah Tuhan tuk tenggelam digantikan fajar? Meredup kan kerlap kerlip dan menajadikannya benderang?!  aku, atau siapa saja takkan lah kuasa meronce waktu.

Untukmu,
lelaki pecandu malam..
bintang bisa jatuh, pun malam bisa tenggelam.
Namun percayalah,  bintang itu tak benar-benar padam.. tak perlu kau cari-cari pijarnya. lepas lah..
Sebab,  saat kau ikhlas melepas, pijar itu hidup didada mu.
usahlah kau risaukan kehilangannya.. saat-saat risau dan lemah hanya akan membuat mu kalah.
raihlah kunang-kunang doa.. sebab doa adalah jalan rambat menuju cahaya yang kan menenangkan. menuju cahaya yang takkan pernah usai, menuju cahaya yang takkan pernah selesai.