Selasa, 09 Februari 2016

Yang Berpayung Terkatung itu, Ibu

16:00 WIB.

Hyuhhhhhhh..  Sebut saja eluhan panjang  karena jam sekolah mulai bertambah. Katanya pemantapan menjelang ujian.

"Bhaayy shelly, bhayy nak anak.. "

Akupun berlari menuju gerbang. Titik-titik air mulai memenuhi kerudung dan seragam putih-biruku.
Sesegera ku menyetop angkot hijau muda. Sesak.. Penuh anak sekolah.
Sekali ku toreh-toreh jari telunjuk pada jendela yang menguap. Jelas ku perhati hujan yang kian deras.

Tak lama..

"Mang Maang.. Kiri."

Lewat kaca spion diatasnya, supir itu melirikku dan buru-buru berhenti.
Perlahan aku turun dan menutup kepala dengan slingbag.

Sambil menunggu uang kembalian, tetiba seseorang berteriak rucah dari arah yang tidak terlalu jauh.

 "Riyanti.. Riyantii.. "

MAMAH ???
Kaget sepaket dengan senang.

Kulihat ibuku berdiri memegang payung, terkatung dibawah pohon besar. Beberapa inci saja dari  lampu merah. Buru-buru aku berlari kecil munujunya. Kuraih tangan bergaris kerutan itu, salam dan memeluk pinggang kendurnya.

"Mamah ngapain disini? Abis dari mana?"

Manis sekali senyumnya. Dengan suara yang tak mau kalah dengan tempaan air hujan di atas payung. Ibuku mengatakan  kalau ia sengaja menjemput karena tak mau melihatku basah kuyup.

Ku gigit bibir bawahku.

"Mamah belum lama menunggu kok"
ucapnya menenangkan.

Ia hafal betul anaknya cemas.

Akupun terus berjalan bersamanya.. 1 km menuju rumah.

Esok harinya..

"Bawa payung ya Nak"

Ucap ibuku yang mematung di belakang sambil menungguiku mengikat tali sepatu.

Aku menggelengkan kepala.

Payung besar itu terlalu repot untuk ku bawa. Hari ini pun lumayan cerah, fikirku.

Aku langsung meraih tangan dan mencium pipinya.

"Riyanti berangkat ya mah.."

15:00 WIB

YES!! Bu Davis gak ngajar.
kali ini, kami pulang cepat.

"Nak Anakkkkk.. aku duluan yaaa .. takut keburu gede nih ujannya"

Mereka menjawabku dan kembali merapikan buku-bukunya. Selain berisik mereka pun tak aneh dengan tingkahku yang serba cepat.

Tak perlu ku selip-selip kerumunan anak di gerbang sekolah yang sama-sama menunggu angkot & jemputan. Kali ini masih sangat sepi.

Dari kejauhan, konjak angkot melambaikan tangannya dan berhenti didepanku.

Setelah duduk nyaman didalam angkot. Kurapikan jaket dan buku paket lalu memasukkannya ke kantong plastik besar.

Sebagai jaga-jaga saja. meski hanya gerimis.

15 menit dalam angkot tetiba hujan semakin deras.
Aku pun mantap untuk menunggu di lampu merah sampai hujan mereda.

Namun saat turun..

"Riyanti.."

lagi-lagi suara  yang dekat dengan dadaku.  Ibu.

Ia terkatung persis di tempat yang sama.

"Mamah? Ya Allah.. ini baru jam 3 lewat. Mamah udah lama nunggu?"

Aku pun memeluknya. Pilu rasa hati ini, tak tahan. Entah dari pukul berapa ia sudah berdiri disana untuk sekedar menungguku.

tak ada handphone.. ia hanya bisa menunggu dengan yakin di jam-jam kepulanganku.

Kami pun berjalan..

Kuat kudengar lenguhan nafasnya yang tertatih-tatih. Pasti ia amat lelah.

"Mah, besok biar ga usah jemput lagi ya. Riyanti mau ko, mau bawa payung besar ini."

Lagi-lagi ia hanya menjual gratis senyumannya. Katanya ia tak ingin melihatku sakit. Ia tak ingin sekolah ku terganggu hanya karena seragam / bukuku basah.

Dada kiriku tersungkur berkelambu syukur. Beruntung aku memilikinya. Sosok yang mempunyai kebaikan abadi dan sumber ketenangan jiwa.

8 tahun berlalu..

Ku ketik kata-kata ini lewat handphone dengan berselimut lembut, hangat, di bawah atap plafon yang tak ada bocor sebesar lubang jarum pun. Padahal, diluar hujan angin terus mengguyur seharian.

Tanpa peran ibu yang selalu memperjuangkan senyum dan semangatku waktu itu, apa masih bisa kunikmati segala kenyamanan ini?

Ibu. Ibuku..

Jumat, 08 Januari 2016

Al-Hayat; Keyakinan yang Tak Mampu Kubahasakan

Engkau Hidup! Yakinku.

Awal tahun.. Namun masih kemarau panjang dikampung kami, mungkin tidak ditempatmu ya?

Caya mentari merambat panas membakar kulit ari. Sampai-sampai butuh 2 jam untuk mengeringkan pakaian yang barusan saja kujemur. Coba bayangkan berapa suhunya?? Sudah?!! PANAS.

Didalam rumah, kudengar orang-orang melempar bincang dengan suamiku "Hujan ga akan turun-turun ini ust*d, kami jadi malas berkebun."

Pesimis, malas, putus harapan  begitu kuat mematri mereka.
Ya minta hujanlah sama Tuhan, mintaaa. Ku membatin.

Tetiba jawaban suami menyeka otakku "kita berdoa saja ya.." , "kita kan belum minta." Sarunya.

Seketika gelap! gelaap! Sengatan mentari yang kian renjana mendadak bungkam, angin seolah menguping. Raut langit lazuardi nampak legam. Rerintik pun menggelayut dikaki awan, siap tuk dijatuhkan.

Lihatlah pekerjaan Tuhanku, angin, mentari, mendung bahkan badai sekalipun tunduk & takkan mampu mematahkan titah-Nya. Lagi lagi.. tak mampu ku membahasakan keyakinanku akan Engkau Tuhanku sayang, Sang Raja Hayat.